Jumat, 25 Februari 2011

RAJA BISNIS SEBAGAI PENGUASA POLITIK

           Sejenak mari kita mengorek kembali tentang kasus lumpur panas Lapindo yang terjadi sejak tahun 2006 hingga kini tak kunjung usai, namun justru semakin terbengkalai. Kasus yang lebih dikenal dengan julukan kasus lLapindo ini merupakan peristiwa adanya lumpur panas yang menyembur dari tanah sebagai sebab dari kesalahan pengeboran minyak oleh PT. Lapindo brantas, salah satu perusahaan pertambangan milik pengusaha terkaya Indonesia, Aburizal Bakrie.
            Seperti yang kita ketahui bersama, kasus ini nyaris tak terurus, waktu membuat kasus ini seakan merupakan kasus lama yang tak perlu lagi dibicarakan. Padahal yang terjadi, kesalahan pengeboran tersebut nyaris mematikan satu wilayah, porong. Bukan tentang kematian secara fisik, namunkematian terhadap jiwa, kehidupan, dan juga semangat dari masyarakat yang menjadi korban.
            Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, mengapa kasus besar seperti itu terkesan tidak digubriskan. Tak dapat disangkal memang, kondisi di indonesia sangat tragis, penguasa bisnis memiliki kekuasaan di bidang politik, dalam hal ini tentu saja ‘sang raja’ bisnis akan dengan mudah mempengaruhi berbagai kebijaksanaan publik, bahkan berbagai kebijaksanaan seringkali bukan berasal dari kaum politisi, namun justru berasal dari para penguasa bisnis.
            Mengapa bisa demikian? Kembali pada konsep perekonomian negara, dimana harus diupayakan pemasukan yang relatif besar, sebagai penyeimbang dari pengeluaran di setiap rencana anggaran tahunan yang juga bengkak. Dari asumsi inilah kemudian pemerintah mengupayakan pemasukan yang besar, termasuk dengan cara ‘bekerjasama’ dengan para penguasa bisnis, gunanya tentu saja dengan berbagai perusahaan para penguasa bisnis tersebut, pemerintah akan dapat meraup pajak yang banyak. Karena itulah, penguasa bisnis kemudian menjadi bagian yang sangat penting dalam pemerintahan.
            Begitu juga dengan yang terjadi pada kasus lapindo brantas. Dalam kasus tersebut, berbagai pakar dan para ahli telah menyatakan bahwa semburan lumpur panas terebut memang berasal dari kesalahan pengeboran yang dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas. Aburizal bakrie juga tela mengeluarkan pernyataan tentang ganti rugi yang akan diberikan kepada korban. Namun dalam realisasinya, ternyata ganti rugi yang diberikan sangat tidak sesuai dengan kerugian yang ada, dan hanya diberikan pada sedikit dari korban, sedangkan mayoritas korban, tidak mendapat ganti rugi sama sekali.
            Bagaimana dengan pemerintah yang melihat fenomena tersebut? Ternyata pemerintah tak banyak memberi pengaruh. Berbagai janji dari pemerintah yang dilayangkan sejak bulan juli 2006 hingga sekarang, tentang kesediaan pemerintah untuk memberi santunan dan memfasilitasi aspirasi dan tuntutan rakyat terhadap lapindo, ternyata hanya isapan jempol belaka. Hingga saat ini, belum ada tindakan konkrit dan perubahan signifikan dari berbagai kebijakan yang diberikan oleh pemerintah terhadap penyelesaian kasus lapindo. Aburizal telah ‘membungkam’ pemerintah dengan kekuasaanya. Aburizal yang selain penguasa bisnis juga merupakan politisi, dengan mudah berkelit dan mengubah pernyataan dari “kasus lapindo branta merupakan human error”, menjadi “kasus Lapindo Brantas merupakan bencana.” Dengan dalih bencana, kemudian aburizal bakrie lepas tangan dari permasalahan bencana lumpur tersebut.
            Kembali pada sebuah pemikiran dari karl Marx, bahwa semua bertumpu pada kekuasaan, dalam hal ini, aburizal bakrie memang nyaris memiliki semuanya, materi, jabatan, juga nama besar dan kekuatan politik. Dan semua itu membuat dia dengan mudah mempengaruhi pemerintah. Pemerintah tak bisa bicara jika dihadapkan pada aburizal bakrie, sebab pada dasarnya, pemerintahan maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya, merasa berhutang budi dengan aburizal bakrie.
            Terkait dengan kajian ekonomi politik, dimana dalam paradigma baru, ekonomi dan politik tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Begitu juga dengan kasus lumpur lapindo.penguasa politik dapat dengan mudah mengatur laju dari politik. Dalam paradigma, dikatakan bahwa antara ekonomi dan politik memiliki keterkaitan satu sama lain, namun tidak dikatakan tentang adanya hegemoni ataupun dominasi. Dan ternyata, dalam realitanya, jika sekilas kita memandang bahwa negara sebagai bagian dari politik mampu mendominasi ekonomi, namun yang sebenarnya terjadi bukanlah demikian, kasus lumpur lapindo merupakan salah satu contoh dari bentuk ekonomi yang mendominasi politik.
            Dalam sistem demokrasi yang ada di Indonesia, idealnya rakyat yang memberi mandat terhadap pemerintah, bukan kaum kapital seperti yang saat ini terjadi di Indonesia. Apalagi yang terkait dengan kebijakan publik, harusnya berpatok pada makna ‘publik’ itu sendiri.
            Seperti yang dinyatakan oleh Robison dalam karyanya, Indonesia: The Rise of Capital (1986), kelahiran kaum kapitalis (pemilik modal besar) berasal dari penguasaan mereka atas monopoli, kontrak, dan konsesi atas proyek-proyek yang dijalankan negara. Disinilah terletak kredo kuasa bisnis: tidak membutuhkan aturan ketat regulasi negara, tapi membutuhkan negara sebagai tempat mengembangbiakkan kekuasaan bisnisnya.[1] Dari asumsi itulah kita akan lebih mudah memahami realita seperti apa yang terjadi saat ini. Relasi kuasa antara pasar dan pemrintah sangat jelas terlihat.
            Entah apapun yang sebenarnya terjadi, namun menurut saya, asumsi tentang relasi kuasa seperti yang telah saya katakan sebelumnya, merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul terkait dengan ‘tindakan janggal’ pemerintah dalam mengatasi kasu lumpu lapindo brantas yang idengtim dengan kasus kemanusiaan lama namun tak juga terselesaikan. Kita sebagai masyarakat, memang akan dengan mudah melihat pemandangan ironis yang terjadi, namun tak pernah ada kekuatan untuk melawannya.


[1] http://fauzisisme.blogspot.com/2008/05/kuasa-bisnis-dan-tirani-pasar.html

Senin, 21 Februari 2011

sekedar ngobrol ttg b-a-j-u

seringkali qt (cewek) bingung milih baju yg match bwt kencan... hmmm... ne ada referensi yg lumayan chic bwt di terapin... cekidot gurlz... ^^v

Atasan tube top warna dark purple, dengan bawahan hotpant warna soft purple. Ditambah scarf warna soft pink, dengan korsace bunga berukuran besar warna merah menyala di bagian simpul. Untuk asesoris, gunakan deker warna pink soft. Pilih anting ring berukuran sedang dengan warna soft pink.  Rambut cukup diikat dengan pita soft pink. Untuk alas kaki, gunakan platform 12 cm warna merah menyala. Cukup rias wajah dengan riasan minimalis dan sentuhan peach di bibir, mata, dan pipi.
Kita seringkali mendengar istilah analisis dampak lingkungan, namun tidak banyak yang benar-benar paham tentang apa yang dimaksud dengan analisis dampak lingkungan, atau disingkat dengan amdal. Ada juga analisis dampak sosial dan analisis dampak kesehatan. Apa maksud dari ketiganya?
 amdal, merupakan reaksi terhadap kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia yang semakin meningkat. Reaksi ini mencapai keadaan ekstrem sampai menimbulkan sikap yang menentang pembangunan dan penggunaan teknologi tinggi. Dengan ini timbullah citra bahwa gerakan lingkungan adalah anti pembangunan dan anti teknologi tinggi serta menempatkan aktivis lingkungan sebagai lawan pelaksana dan perencana pembangunan. Karena itu banyak pula yang mencurigai amdal sebagai suatu alat untuk menentang dan menghambat pembangunan.[1] padahal realitanya bukan demikian, amdal hanyalah mewaspadai adanya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pembangunan.
Amdal pertama kali dicetuskan berdasarkan atas ketentuan yang tercantum dalam pasal 16 undang-undang no.4 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup. Berdasarkan amanat pasal 16 tersebut diundangkan pada tanggal 5 juni 1986 suatu peraturan pemerintah no.29 tahun 1986 tentang analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).[2]
Amda memang sangatlah diperlukan, sebab mengingat bahwa pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang berkelanjutan, dimana SDA tetap lestari, tidak terkuras habis, dan SDM pun terus berkembang. Dari paradigma itu, maka amdal jelas sangat diperlukan. Melalui amdal, kita dapat menganalisa dampak yang akan terjadi dari pembangunan, sebelum pembangunan dilaksanakan. Dari situlah, kemudian dapat dianalisa bagaimana cara untuk mengatasi dan menaggulangi dampak negatif dari sebuah pembangunan.
Sedangkan analisis dampak sosial, lebih kepada dampak-dampak yang terjadi pada lingkungan sosial, yang tentu saja identik dengan masyarakat. Sedangkan amdal, lebih luas cakupannya. Pada dasarnya, analisis dampak sosial sangat tergantung pada lingkungan sosial yang ada. Mengingat setiap masyarakat akan saling berbeda satu sama lain. Jadi dalam analisis dampak sosial, peneliti haruslah benar-benar memahami lingkungan tipikal masyarakat yang terkait.
Mengarah pada poin ketiga, yaitu analisis dampak kesehatan. Masih terkait dengan analisis dampak dari sebuah pembangunan, seperti amdal dan analisis dampak sosial, namun analisis dampak kesehatan lebih kepada hal-hal yang terkait dengan kesehatan. Sebab bagaimanapun, kesehatan lingkungan merupakan bagian dari lingkungan secara umum, dan lingkungan sosial.
Lalu yang menjadi pertanyaan, adakah keterkaitan antara ketiga poin tersebut?  Menurut saya, jelas ketiganya memiliki keterkaitan yang erat, bahkan nyaris tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kembali pada makna lingkungan yang ada pada amdal, lingkungan yang dimaksud disitu bukan hanya lingkungan yang bersifat fisik, namun juga lingkungan sosial. Definisi lingkungan sosial secara holistik memang bukan saja mengenai lingkungan fisik/kimia, namun juga lingkungan sosial.[3]
Dari penjelasan diatas, maka kita dapat menarik kesimpulan, bahwa antara analisis dampak lingkungan dengan analisis dampak sosial, jelas terkait erat, karena lingkungan sosial merupakan bagian dari lingkungan secara luas. Bagaimana dengan analisis dampak kesehatan? Jelas kesehatan juga terkait dengan keduanya. Karena kesehatan berpengaruh terhadap lingkungan secara luas, bukan hanya lingkungan sosial yang terkait dengan kesehatan masyarakat, namun juga tentu saja lingkungan fisik.
Lalu apa contoh keterkaitan ketiganya dalam kehidupan nyata? Salah satu contohnya adalah pencemaran udara. Pencmaran udara merupakan masalah global. Sumber pencemaran udara adalah terutama pembakaran bahan bakar fosil untuk mendapatkan eneri untuk industri dan transpor. Pencemaran udara nampak secara visual pada udara kelabu yang menyelimuti kota-kota. Pencemaran udara oleh debu juga nampak jelas di dekat pabrik semen dan pabrik pembakar kapur, misalnya di daerah cibinong, bogor, dan di tagogapu, padalarang.
Zat pencemar udara terdiri dari gas, logam, dan partikel halus. Gas pencemar udara banyak jenisnya. Kenaikan kadar karbondioksida dalam atmosfer merupakan penyebab penting terjadinya pemanasan global. Kfk juga merupakan gas rumah kaca dan zat perusak lapisan ozon stratosferik. Beberapa zat pencemar lainnya ialah hidrokarbon oksidanitrogen dan oksidabelerang. Pembakaran bbm merupakan sumber antropogenik penting zat-zat tersebut. Di bawah pengaruh sinar matahari, hidrokarbon, oksidanitrogen, co dan oksigen bereaksi membentuk ozon dan berjenis zat lain lagi yang membentuk smog yang mengandung berbagai jenis senyawa yang mengganggu kesehatan., seperti peroksida aldehid, keton, dan organo-nitrat. Berbeda dengan ozon stratosfer yang melindungi manusia dan makhluk hidup lain dari penyinaran sinar uv bergelombang pendek, ozon troposferik mengganggu tumbuhan, hewan, dan kesehatan manusia.
Ozon merusak jaringan tubuh, menghambat fotosintesis, dan meningkatkan kepekaan tumbuhan terhadap zat pencemar lain, penyakit, dan juga kekeringan.  Di amerika serikat, kerugian ekonomi di bidang pertanian mencapai 1-2 miliar us dolar per tahun akibat ozon. Ozon merusak paru-paru dan jaringan saluran pernafasan. Kenaikan kadar ozon troposferik memberikan kontribusi penting pada kenaikan prevalensi pada penyakit asma dan bronkhitis. Smog di london pada tahun 1952 telah menyebabkan 4000 kematian prematur karena penyakit jantung dan paru-paru. Di kotowice, polandia, kota yang sangat tinggi pencemaran udaranya, dan pencemaran tersebut telah meningkatkan penyakit pernafasan, kanker, dan cacat pada anak.
Dari contoh diatas, kita semua dapat menyaksikan bahwa ternyata analisa dampak lingkungan juga sangatllah terkait dengan analisa dampak sosial dan analisa dampak kesehatan. Ketiga analisa tersebut saling terkait satu sama lain, tidak dapat dipisahkan.


[1]soera.wordpress.com/2009/01/31/pengertian-amdal
[2] mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/analisis-mengenai-dampak-lingkungan-amdal-dan-faktor-recovery-ekonom
[3] Ibid.

Jumat, 18 Februari 2011

terinspirasi 'Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur'

tulisan nyata tentang kisah seorang wanita dengan hasrat hidup yang begitu tinggi, Tuhan izinkan aku menjadi pelacur... cukup menemani malam q...

gak terlalu banyak 'pemanis' dan kemunafikan di dalam sana... berkisah tentang kehidupan yang benar-benar nyata... tentang dilematis agama dan realita, juga tentang pergolakan batin seorang wanita yang mencoba tetap berdiri diatas puing-puing dan reruntuhan hidup.

buat aku, ini *lagi-lagi* menginspiras hidup q, hidup sebagai seorang wanita, hidup sebagai seorang yang terdogma budaya, dan tentu saja agama mainstream...

aku tak begitu terkejut dengan kisah yang ada di dalamnya... telah banyak pemandangan yang q lihat, yang tentu saja diantarany memiliki kisah menyedihkan layaknya Nidah Kirani, sang tokoh utama. tapi yang membuat berbeda disini adalah perubahan yang terkesan begitu sekejab. dari yang semula seorang wanita yang taat menjadi sosok beringas yang luar biasa kontroversional.

memang begitulah kehidupan seorang wanita, kungkungan budaya yang begitu erat, terkadang memang mampu membuat seorang wanita menjadi wanita ideal, tapi di sisi lain, semua itu justru membuat wanita hidup dalam kematian, sangat ironis.

aku memang salah satu perempuan yang punya beberapa kesamaan sifat dengan si tokoh utama.... dan aku tahu sesakit apa yang dia rasa, hingga sebesar apa dendam yang dia punya...

sejujurnya tak ada orang yang boleh mencaci sisi kelam orang lain, karena pada dasarnya, semua punya backstage yang berusaha ditutupi... semua yang bnr2 manusia, pasti punya sisi kelam, bahkan dalam label yang sangat gemilang sekalipun. yah, inilah hidup, kita seringkali menerjemahkan kehidupan seseorang hanya dari frontstage-nya, dan kemudian kecewa dan mencerca ketika mengetahui backstage. bagaimana mungkin kita berbicara tentang kesucian? sementara sikap kita tersebut jauh dari makna 'suci'???